Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2009

Kekuasaan Tuhan dalam Diri Anda

Kalau kita amati banyak banget lo tanda2 itu
ya...tanda kebesaran Tuhan kawan...
dalam diri kita ini...coba kita teliti bareng yuu...k!

**garis-garis telapak tangan kita**

perhatikan garis-garis di telapak tangan kita.
garis ditangan kiri menunjukkan angka 8 dan 1 dalam bahasa arab dan
tangan kanan 1 dan 8 , nah kalo kita bawa ke penjumlahan menjadi
81 + 18 = 99. tau kan itu bilangan nama Allah (Asmaul husna)
** kenapa si klo makan kita pake tangan?**
kita bisa meniru cara Rasulullah SAW, beliau akan memasukkan lauk dan nasi dengan tangan kanannya kemudian membiarkan sebentar,
lalu Rasulullah akan mengambil sedikit garam menggunakan jarinya,lalu beliau akan menghisap garam itu.kemudian barulah beliau makan nasi dan lauknya.mengapa? karena kedua belah tangan kita mengeluarkan 3 macam enzim, tetapi konsentrasi di tangan kanan lebih banyak dari yang kiri.ini disebabkan karena enzim yang ada di tangan kanan itu merupakan enzim yg dapat membantu dalam proses pencernaan.


** mengapa menghisap garam?**
becoz garam adl sumber mineral dari tanah yang diperlukan oleh tubuh kita.
bener kan kawan?....2 cecah garam dari jari kita tu sama dengan 1 liter air mineral.
kita berasal dari tanah maka bahan yang berasal dari tanah ini sangat bermanfaat untuk kita
selain garam merupakan sumber mineral, garam juga sebagai penawar yang paling mujarab
untuk keracunan, menurut medis, the first line of treatment for poisoning adl dengan memberi
Sodium Cloride, alias garam. Garam juga dapat menghalang sihir
dan mahluk2 halus,,,lembut eh lelembut maksudnya.
** Cara Rasulullah Mengunyah**
klo lagi kelaperan ni...jgn harap mengunyah makanan dg pelan,boro-boro sampe lumat,
klo kita gak inget bisa2 lupa baca doa sebelum makan, ya kan kawan?hehe....
ntr ingetnaya baru di tengah2 kita makan, baca Bismiallahi awwaluhu wa akhiruhu deh...
taukah kau teman,Rasulullah, beliau akan mengunyah sebanyak 40 kali untuk membiarkan
makanan itu betul2 lumat agar perut kita senang memproses makanan kita,suabhanallah
di era ini ada gak ya?1001 kali ya...yang mengunyah sampai sebanyak itu.
seamoga kita bisa meneladani beliau.amiin.
** Membaca Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim)**
membaca basmalah sebeluma makan untuk mengelakkan penyakit.
karena bakteri dan racun membuat perjanjiana dengan Alloh swt,
apabila dibacakan Basmalah maka bakteri dan racun akan musnah dari makanan itu.
** Cara Rasulullah Minum**
memang sepele si....
janganlah kita minum sambil berdiri walaupun itu makruh,
tapi makruh yang mendekati haram.Jangan kita minum dari tempat/wadah yang besar
dan jangan bernafas ketika sedang minum, karena jika kita minum dari tempat yang besar
dan bernafas maka kita akan mengeluarkan CO2 dan kalo bercampur dengan air
akan menjadi H2CO3 (cuka), sehingga menyebabkan minuman itu menjadi acidic (asam).
sabda Rasul: cara minum yang benar adl seteguk bernafas, seteguk bernafas sampai habis.
** Mengapa islam memerintahkan hukum cambuk 100 kali bagi orang bujang
yang berzaina dan merajam sampai mati orang yang sudah menaikah berzina?**
guys..tubuh manusia akan mengeluarkan sel-sel darah putih (leukosit) atau antibiotika
yang dapat melawan penyakit (sistem imun). sel-sel ini terdapat di daerah tulang belakang
berdekatan dengan sum sum tulang manusia. lelaki bujang dapat mengeluarkan beribu-ribu
sel ini, sedangkan lelaki yang sudah menikah hanya dapat menghasialkan 10 unit sel sehari.
Hal ini disebabkan karena sela lainnya akan menhilang karena hubungan suami istri.
1. jadi bila laki2 bujang melakukan zina hendaklah dicambuk 10 kalia.
alasannnya adl karena apabila dia dicambuk bagian belakang, maka rasa sakit
dan luka ayang dialaminya akan merangsang sum sum tulang untuk menghasilkan
beribu leukosit yang dapat melawan HIV dalam tubuhnya.
2. tetapia jaika lelaki iu sudah kawin, walaupun dicambuk 100 kali
ia akan tetap menghasailkan 10 unit antibodi saja, jadi hukumannya
diarajam hingga mati agar ia tidak bisa menularkan HIV itu.

Rabu, 29 Oktober 2008

FITRAH pada WANITA dan LAKI-LAKI

Sesungguhnya hukum kehidupan telah menentukan masing-masing kekhususan bagi pria dan wanita. Perbedaan spesifik itu dapat dilihat pada jasmani, jiwa, dan akal antara keduanya.

Pada wanita, fisik atau jasmaninya mengalami kondisi-kondisi tertentu karena tipe-tipenya yang tertentu. Ia bisa mengalami haid, karena anatomi yang dimilikinya. Jiwanya begitu peka terhadap gejolak, tiba-tiba saja selera makannya hilang hanya karena suatu kesedihan kecil; tiba-tiba saja perutnya mual, kepalanya pusing, perasaan dan fikirannya tercekam, sekedar berbentur dengan problem yang remeh.

Hanya wanita pula yang bisa mengandung. Tiga bulan pertama badannya lemah, wajahnya pucat dan jantungnya mudah berdebar-debar. Pada akhir kehamilannya, di sana-sini badannya terasa sakit. Kadang-kadang kedua kakinya membengkak. Benarlah gambaran dari Allah,

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,
dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
(Al-Qur’an Al-Karim Surah Luqman [31] : ayat 14)

Kemudian datanglah masa kelahiran jabang bayi. Ia pun mengalami masa nifas lebih kurang 40 hingga 60 hari. Oleh karena itu, kita dapat menyebut wanita sebagai pahlawan yang harus berjuang seorang diri untuk melahirkan putra-putrinya dengan taruhan darah dan nyawa.
Datang pula waktu menyusui yang memakan waktu dua tahun. Kadang-kadang ia kurang tidur untuk mengurusi dan menyusui bayinya. Apalagi bila bila si bayi sakit. Duhai betapa sibuk dan bingungnya.
Pendek kata, wanita memang berbeda dengan laki-laki, baik secara fisik luar maupun dalamnya. Karena hormon-hormon tertentu, wanita nampak lebih halus, lembut dan lemah. Sebaliknya, pria lebih tegas, kasar, dan tegap.

Cinta, harapan, rasa dan malu juga lebih mendalam pada wanita daripada lelaki. Sifat-sifat itu muncul bukan dari tuntutan adat-istiadat dan tekanan lingkungan, tetapi memang fitrahnya demikian.

Keadaan jasmani dan jiwa yang serba lembut, lemah, dan penuh perasaan membuat kecenderungannya juga berbeda dengan laki-laki. Wanita lebih emosional dalam menghadapi sesuatu, tetapi laki-laki lebih rasional. Wanita lebih sering ngeri ketika melihat peristiwa-peristiwa celaka dan sadisme, misalnya kecelakaan, pembunuhan dan sebagainya. Akan tetapi, pria lebih sigap dan tanggap.

Itulah sebabnya, dalam kesaksian untuk pria cukup satu orang tetapi bagi wanita perlu dua orang. Alasannya, kadang-kadang wanita lebih mendahulukan emosi dan perasaannya daripada akalnya, dan kadang-kadang pula menjadi pelupa disebabkan melihat keadian yang mencekam jiwanya. Al-Qur’an menetapkan :

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.”
(Al-Qur’an Al-Karim Surah Al-Baqarah [2] : ayat 282)

Apakah hikmah di balik dua perbedaan tersebut? Ialah agar masing-masing berjalan di atas fitrahnya sendiri dalam mengemban tugas yang telah ditetapkan Allah ‘Azza wa Jalla.

Laki-laki yang lebih kuat, keinginannya lebih pasti dan lebih rasional. Dia akan mengarah pada jenis-jenis pekerjaan yang menuntut tanggung jawab yang lebih besar. Dialah yang harus mengembara di atas bumi, berjuang sungguh-sungguh demi keluarga; dialah yang diwajibkan untuk memanggul senjata jihad, mengurusi pemerintahan, kehakiman, dan sebagainya.

Sedangkan wanita yang lebih lemah dan kental perasaannya memiliki tugas-tugas fisik yang lebih ringan pula, yaitu mengatur rumah tangga, tetapi mendapatkan amanah untuk mengasuh, mendidik, dan memelihara anak-anaknya. Dan dengan kecenderungan yang ingin mencintai, ia harus melaksanakan hak-hak suaminya. Itulah pekerjaan-pekerjaan yang diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan jalur bagi masing-masing, di mana mereka harus menempatkan diri. Di dalam Surah An-Nisa’ disebutkan : 

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah 
kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.
(Karena) bagi orang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, 
dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan,
dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. 
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nisa’ [4] : ayat 32)

Kebanyakan wanita-wanita karier, wanita-wanita profesi, artis (seniwati) dan lain-lain, di negara-negara berfaham kebebasan mengeluh tentang kekosongan dirinya. Mereka mengungkap itu dalam media-media massa, atau dalam biografi yang ditulisnya sendiri. Sebenarnya hati kecilnya merindukan sebagai ibu dan istri yang baik.

Lalu bagaimana bila masalahnya adalah karena kebutuhan yang mendesak? Suaminya gajinya tidak mencukupi sehingga perlu dibantu oleh istri?


Islam dalam hal ini bersikap luwes, elastis. Islam memperbolehkan kaum ibu bekerja dengan syarat-syarat sebagai berikut:
a. Pekerjaan untuk wanita haruslah diselaraskan dengan sifat-sifatnya sebagai wanita, misalnya: menjahit, merenda, membordir, juru rawat, mengedit, menerjemahkan dan sebagainya.
b. Senantiasa berpegang teguh dan konsisten memegang adab dan akhlak Islam. Ia harus berpakaian sopan, memakai hijab (jilbab) dan tidak satu ruangan bercampur baur dengan laki-laki.
c. Tidak boleh memegang pekerjaan yang memberatkan fisiknya.

Ketentuan di atas sebenarnya merupakan rambu-rambu penyelamatan bagi wanita. Kalau dilanggar akan mendatangkan bahaya-bahaya kehidupan yang menjerumuskan akhlaknya menjadi rusak. Bahaya-bahaya itu antara lain:
a. Bila wanita bekerja dengan motivasi semata-mata untuk kesenangan dirinya, akan menimbulkan gejala banyaknya pengangguran di kalangan laki-laki, sebab pekerjaan yang yang seharusnya disediakan bagi kaum laki-laki tersebut telah direbut oleh kaum wanita.
b. Tersebarnya demoralisasi di dalam masyarakat, karena tidak terjadi ketidakseimbangan tugas dan kewajiban sebagaiman digariskan Islam.
c. Terjadinya ketidakharmonisan keluargam karena satu sama lain tidak menempati posisinya masing-masing.

Agama Islam lebih jeli melihat hikmah kehidupan. Ibu yang bekerja di luar, akan menelantarkan anak-anaknya dari perhatian, kasih sayang dan pendidikan moral. Apalagi jika ayahnya juga sibuk mengejar jenjang karier. Rumah benar-benar akan menjadi lengang selengang dan sekosong jiwa anak-anaknya lalu anak-anak akan tak terurus, dan menjadi berandal karena tanpa arahan dari orang tua.

Seorang penyair pernah menyindir:

Bukanlah daku ini yatim
karena orang tua tiada, pergi dari dunia
meninggalkan kami papa

tetapi yatim itu
karena bunda tiada pernah berdiam di rumah
ayah pun sibuk bekerja

dr
Terapi Islam terhadap Rintangan Menjelang Perkawinan oleh Abdullah Nasih ‘Ulwan,
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة

Islamic Widget

Me

Kiss The Ra!n